BerandaNewsPrabowo Hadiri KTT BRICS, Pengamat: Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Nasional

Prabowo Hadiri KTT BRICS, Pengamat: Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Nasional

Jakarta, 14 September 2026 – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, dinilai menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di tengah perubahan konstelasi ekonomi dan geopolitik global.

Presiden Prabowo menghadiri KTT BRICS yang berlangsung pada 12–13 September 2026 sebagai bagian dari keanggotaan penuh Indonesia dalam kelompok negara tersebut. Forum BRICS tahun ini berlangsung di tengah berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga persoalan ekonomi dan perdagangan internasional.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, sekaligus Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ali Rif’an, mengapresiasi kehadiran Presiden Prabowo dalam forum tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif Indonesia di BRICS menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ruang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam percaturan internasional.

Baca Juga: Prabowo Hadiri KTT BRICS, Pengamat: Indonesia Harus Manfaatkan Momentum Strategis

“Menurut saya, kehadiran Presiden Prabowo di KTT BRICS tentu merupakan langkah yang positif. Indonesia sekarang bukan hanya menjadi bagian dari forum tersebut, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan kepentingan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” ujar Ali.

Namun, Ali menilai keikutsertaan Indonesia dalam BRICS tidak cukup hanya dimaknai sebagai kehadiran diplomatik. Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana keanggotaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.

“Yang perlu kita lihat ke depan bukan hanya soal kehadiran Indonesia di forum internasional, tetapi apa yang bisa dibawa pulang untuk kepentingan masyarakat. Diplomasi harus menghasilkan manfaat yang konkret, baik dalam perdagangan, investasi, teknologi, energi, maupun penguatan ekonomi nasional,” katanya.

Ali mengatakan posisi Indonesia di BRICS juga memiliki nilai strategis karena dunia saat ini menghadapi fragmentasi yang semakin kuat. Menurutnya, Indonesia perlu menjaga politik luar negeri yang fleksibel dan tidak terjebak dalam pilihan blok tertentu.

Baca Juga: Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Hadiri KTT BRICS 2026

“Indonesia memiliki kepentingan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan dunia. Karena itu, saya kira BRICS harus dilihat sebagai salah satu ruang diplomasi dan kerja sama, bukan sebagai pilihan untuk berhadapan dengan kelompok negara tertentu,” tutur Ali.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar Indonesia tetap dapat menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif sekaligus memperluas ruang kerja sama ekonomi.

“Indonesia harus tetap punya posisi yang independen. Kita bisa bekerja sama dengan siapa saja sepanjang itu memberikan manfaat bagi kepentingan nasional. Jadi, jangan sampai keanggotaan dalam satu forum kemudian mempersempit ruang diplomasi Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Ali juga menilai pemerintah perlu memiliki agenda yang jelas dalam memanfaatkan posisi Indonesia di BRICS. Menurutnya, peluang kerja sama yang terbuka harus diarahkan pada sektor-sektor yang dapat memperkuat kapasitas ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ini kesempatan yang baik, tetapi kesempatan harus diikuti dengan kemampuan melakukan negosiasi dan menghasilkan kerja sama yang konkret. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar bagi negara lain. Indonesia juga harus mampu meningkatkan daya tawar, memperkuat industri dalam negeri, dan mendapatkan akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Ia berharap kehadiran Prabowo di KTT BRICS dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi tawar Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi negara yang aktif, terbuka, dan tetap independen dalam menghadapi perubahan tatanan global.

“Secara umum saya melihat ini sebagai langkah yang positif. Tetapi apresiasi harus berjalan bersama evaluasi. Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin, menjaga kepentingan nasional, dan memastikan setiap kerja sama internasional benar-benar memberikan nilai tambah bagi Indonesia,” pungkas Ali. (*)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments